"TERBONGKAR! RAHASIA TETAP BISA MAKAN KOLAK TANPA BIKIN KOLESTEROL NYANYI NYARING!"
"Pernah nggak kalian ngerasa kalau bulan Ramadhan itu adalah ujian iman sekaligus ujian pembuluh darah? Baru seminggu puasa, tapi rasa sayang kita ke gorengan dan kolak sudah lebih besar daripada rasa sayang ke kesehatan sendiri. Kemarin, saya kedatangan pasien bapak-bapak yang curhatannya lebih sedih daripada drama Korea!"
Pasien saya ini, sebut saja namanya Pak Bambang (nama disamarkan demi keamanan stok takjilnya). Beliau datang dengan muka lemas, tapi bukan karena puasa, melainkan karena hasil cek kolesterolnya yang angkanya lebih tinggi daripada harga tiket pesawat mudik.
"Ners," kata Pak Bambang sambil pegang tengkuk, "Saya ini pejuang takjil sejati. Buka puasa tanpa kolak pisang, cendol duren, dan gorengan itu rasanya kayak puasa tapi nggak niat. Hambar! Tapi kenapa ya, baru hari ke-15, leher saya rasanya kaku kayak kanebo kering?"
Saya tarik napas dalam-dalam (pakai teknik 4-7-8, biar nggak ikutan emosi). "Pak Bambang," kata saya santai, "Masalahnya bukan di kolaknya, tapi di cara Bapak memperlakukan santan itu kayak air putih. Santan itu ibarat mantan yang cantik tapi posesif; kalau kebanyakan, dia bakal 'nyangkut' di hati, eh maksudnya di pembuluh darah Bapak!"
Saya pun mulai memberikan "Khutbah Kesehatan" edisi takjil buat Pak Bambang. Berikut adalah aturan main kalau mau tetep kencan sama santan tapi kolesterol tetep aman:
Jangan Dipanasin Berulang Kali: "Santan itu setia, Pak. Sekali mateng, ya sudah. Kalau Bapak panasin kolak sisa kemarin berkali-kali, santannya bakal 'bermutasi' jadi lemak jenuh yang lebih jahat dari lintah darat. Kolesterol jahat (LDL) langsung pesta pora di badan Bapak!"
Pakai Santan Encer: "Kalau bikin kolak sendiri, nggak usah pakai santan yang kentalnya kayak lem kayu. Pakai yang encer aja, atau ganti sebagian pakai susu rendah lemak atau fiber creme. Rasanya tetep enak, tapi jantung Bapak bakal bilang 'Terima Kasih'."
Aturan 'Satu Macam Saja': "Ini yang paling penting, Pak. Kalau sudah makan kolak yang bersantan, tolong gorengannya dipensiunkan dulu. Jangan semua 'pemain bintang' berminyak diturunkan di satu meja. Itu namanya bukan buka puasa, tapi sabotase kesehatan massal!"
Imbangi dengan 'Pasukan Hijau': "Habis makan yang manis dan bersantan, jangan lupa guyur pakai air putih yang banyak dan serat dari sayur pas makan besar. Serat itu ibarat satpam yang bakal nangkepin lemak-lemak bandel biar nggak masuk ke aliran darah."
Pak Bambang manggut-manggut serius. "Oalah... jadi saya boleh makan kolak, asal jangan dipanasin lagi dan jangan barengan sama bakwan lima biji ya, Ners?"
"Tepat sekali, Pak! Sehat itu bukan berarti nggak boleh makan enak, tapi tahu diri kapan harus ngerem sebelum organ tubuh kita 'demo' turun ke jalan," jawab saya sambil ngasih brosur gizi.
Ternyata, musuh kita bukan santannya, tapi nafsu kita yang pengen memborong semua menu di meja makan dalam waktu 10 menit. Jadikan santan sebagai pelengkap, bukan sebagai menu utama yang diminum pakai gelas besar!
"Nah, kalau kalian tim mana nih? Tim 'Sikat Semua Takjil' atau tim 'Pilih-Pilih Biar Leher Enggak Kaku'? Coba share tips rahasia kalian biar tetep sehat makan bersantan di kolom komentar!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar