Kamis, 19 Maret 2026

Muhammadiyah itu sering ditolak ...

 


Muhammadiyah itu sering ditolak
bukan karena salah
tapi karena terlalu cepat
Tahun 1912, Muhammadiyah lahir.
Mereka datang bawa dua senjata:
kembali ke Quran–Sunnah, dan pakai akal sehat.
Dan kita tahu…
akal sehat sering bikin orang tidak nyaman.
1920–1930an: Kiblat tidak lagi “asal ke barat”
Muhammadiyah bilang:
“Kiblat itu bukan kira-kira. Harus dihitung.”
Pakai ilmu falak. Pakai sudut. Pakai matahari.
Reaksi?
“Wah, ngeraguin ulama dulu!”
Sekarang?
Semua orang buka aplikasi kiblat.
Masjid pakai arah presisi.
Yang dulu ditolak… sekarang jadi standar.
Salat Id di lapangan
Muhammadiyah bilang:
“Salat Id itu di lapangan. Itu sunnah Nabi.”
Dulu dianggap aneh.
Sekarang?
Lapangan penuh. Stadion penuh. Jalan ditutup.
Yang dulu asing… sekarang jadi tradisi nasional.
Ucapan Lebaran:
Dulu orang bilang:
“Minal aidin wal faizin.”
Kedengarannya islami. Tapi:
bukan hadis
bukan doa lengkap
sering cuma jadi slogan
Muhammadiyah dorong:
“Taqabbalallahu minna wa minkum.”
Artinya:
“Semoga Allah menerima amal kita.”
Dulu terasa kaku.
Sekarang?
WhatsApp, khutbah, caption—semua pakai itu.
Pendidikan modern: meja-kursi itu “bid’ah”?
Awal abad 20, Muhammadiyah bikin sekolah:
pakai bangku
pakai papan tulis
ada matematika, sains, bukan cuma ngaji
Reaksi?
“Ini meniru Belanda!”
“Kristen alus!”
“Sekolah kafir!”
Sekarang?
Semua sekolah Islam:
pakai kelas
pakai kurikulum umum + agama
Yang dulu dianggap penjajah… sekarang jadi standar pendidikan umat.
Zakat: dari personal ke sistem
Dulu:
zakat langsung ke kyai
tidak terstruktur
Muhammadiyah bikin:
lembaga amil zakat
sistem transparan
program sosial
Reaksi?
“Ibadah kok dibirokrasi?”
“Terlalu administratif!”
Sekarang?
Ada:
LAZISMU
BAZNAS
lembaga zakat profesional
Yang dulu dianggap aneh… sekarang jadi tulang punggung ekonomi umat.
1923: PKO – agama turun ke jalan
Muhammadiyah bikin:
rumah sakit
panti asuhan
layanan sosial
Nama awalnya:
PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem)
Terinspirasi dari Surah Al-Ma’un.
Reaksi?
“Ini meniru misionaris Kristen!”
“Ulama kok jadi pekerja sosial?”
Sekarang?
Dakwah tanpa:
rumah sakit
santunan yatim
terasa kosong.
Khutbah pakai bahasa Indonesia
Dulu khutbah:
full bahasa Arab
jamaah tidak paham
Muhammadiyah bilang:
“Agama itu harus dimengerti, bukan cuma didengar.”
Reaksi?
“Tidak sah!”
“Mengurangi kesakralan!”
Sekarang?
Hampir semua khutbah:
pakai bahasa Indonesia
komunikatif
Dari yang dianggap tidak sah… jadi standar nasional.
Sekarang: Kalender Global
Dan hari ini… mereka bikin “masalah baru”.
Muhammadiyah bilang:
“Satu dunia Islam, satu kalender.”
Kalender Hijriah Global Tunggal.
Logikanya sederhana:
bumi satu
bulan satu
kenapa lebaran beda?
Reaksi?
“Dalilnya mana?”
“Gak nyunnah”
Kalau lihat pola sejarah:
Ditolak
Dituduh aneh
Diperdebatkan
Dipakai diam-diam
Jadi standar
Maka kemungkinan besar:
KHGT akan mulai dari komunitas
lalu regional
lalu sebagian negara ikut
dan pelan-pelan jadi konsensus global
Karena dunia sudah terkoneksi.
Dan beda hari… makin terasa tidak masuk akal.
Apakah semua akan Muhammadiyah pada waktunya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar